Minggu, 03 Juli 2016

Toleransi (keputusan bahtsul masail)

Banyak sekali komentar hukum tentang adaptasi dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Para Ulama’ dalam  hal ini berbeda pendapat, ada yang mengatakan wajib, jawaz dan istihbab. Mereka berpendapat bahwa walisongo juga beradaptasi dengan budaya jawa yang cenderung animis dan budhis.
Pertanyaan :
          a.      Bagaimanakah hukumnya beradaptasi dan toleransi dalam pergaulan masyarakat yang majmuk ?
          b.      Adakah dalil syar’i dari Al Qur’an dan Hadits yang membolehkah adaptasi antara ajaran agama dengan kebudayaan ?
          c.      Di antara qoidah fiqhiyyah yang ada, masuk kategori qoidah apa adaptasi tersebut ?                                                          Pengurus FMPP
Jawaban :
         a.       Toleransi hukumnya boleh pada hal-hal yang menurut ajaran mereka diperbolehkan selama tidak dilakukan secara terang-terangan, dengan disertai ingkar di dalam hati. Adapun adaptasi hukumnya makruh.  Kecuali ada tujuan menyamai dalam hal-hal yang merupakan ciri khas mereka.
Catatan : Ketentuan hukum toleransi dan adaptasi di atas, dibatasi selama tidak menyentuh aqidah. Jika sampai menyentuh pada aqidah ( ridlo akan kekufuran ), maka hukumnya kufur. Bila hanya sebatas mawaddah (rasa simpatik), maka hukumnya haram. Dan apabila ada harapan akan masuk islamnya atau menarik kemanfa’atan dan menepis bahaya, maka hukumnya boleh .
Referensi :
1.       Al Fatawi Kubro Juz 4 hal. 117
2.       Al Bujairomi ‘Alal Khotib Juz 4 ha. 245
3.       Bughyatul Mustarsyidin hal. 247
4.       Al Jamal ‘Alal Manhaj Juz 5 hal. 226
( وسئل ) عما يفعله الأعاجم ومن يقتدى بهم من القيام أو الانحناء أو المطاطاة أو نحو ذلك عند شرب بعضهم هل هو بدعة ( فأجاب ) نعم هو بدعة قبيحة لأنا نهينا عن التشبه بالأعاجم اهـ
الفتاوى الكبرى  الجزء الرابع ص : 117
( خاتمة ) تحرم مودة الكافر لقوله تعالى " لاتجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله فإن قيل قد مر فى باب الوليمة أن مخالطة الكفار مكروهة أجيب بأن المخالطة ترجع إلى الظاهر والمودة إلى الميل القلبى فإن قيل الميل القلبى لا اختيار للشخص فيه أجيب بإمكان دفعه بقطع أسباب المودة التى ينشأ عنها ميل القلب كما قيل إن الإساءة تقطع عروق المحبة ( قوله تحرم مودة الكافر ) أى المحبة والميل بالقلب وأما المخالطة الظاهرية فمكروهة وعبارة شرح م ر وتحرم موادتهم  وهو الميل القلبى لا من حيث الكفر وإلا كانت كفرا وسواء فى ذلك أكانت لأصل أو فرع أم غيرهما وتكره مخالطته ظاهرا ولو بمهاداة فيما يظهر ما لم يرج إسلامه ويلحق به ما لوكان بينهما نحو رحم أو جوار إهـ  وقوله ما لم يرج إسلامه أو يرج منه نفعا أو دفع شر لا يقوم غيره فيه مقامه كأن فوض إليه عملا  يعلم أنه ينصحه فيه ويخلص أو قصد بذلك دفع ضرر عنه وألحق بالكافر فيما مر من الحرمة والكراهة الفاسق ويتجه حمل الحرمة على ميل مع إيناس عنه أخذا من قولهم يحرم الجلوس مع الفساق إيناسا لهم أما معاشرتهم لدفع ضرر يحصل  منهم أو جلب نفع فلا حرمة فيه إهـ ع ش على م ر اهـ
البجيرمى على الخطيب الجزء الرابع ص : 245 أو 292
( مسئلة ى ) حاصل ما ذكره العلماء فى التزيى بزى الكفار أنه إما أن يتزيا بزيهم ميلا إلى دينهم وقاصدا التشبه بهم فى شعائر الكفر أو يمشى معهم إلى متعبداتهم فيكفر بذلك فيهما وإما أن لا يقصد كذلك بل يقصد التشبه بهم فى شعائر العيد أو التوصل إلى معاملة جائزة معهم فيأثم وإما أن يتفق له من غير قصد فيكره كشد الرداء فى الصلاة اهـ
بغية المسترشدين ص : 248

( قوله وعيد ) – إلى أن قال – ولا يمنعون مما يتدينون به من غير ما ذكر كفطر رمضان وإن حرم عليهم من حيث تكليفهم بالشرع اهـ
حاشية الجمل الجزء الخامس ص : 226

             b.       Ada .
Referensi :
1.       Tafsir Khozin Juz I hal. 185 - 186
2.       Tafsir Baidlowi Juz II hal. 19.
3.       Al Halal wal Haram hal. 292.
4.       Faidlul Qodir Juz VI hal. 104.
5.       Tafsir Jalalain juz I hal. 89.
( ثم أفيضوا من حيث أفاض الناس ) أى لتكن إفاضتكم من حيث أفاض الناس وفى المخاطبين بهذا قولان أحدهما أنه خطاب لقريش قال أهل التفسير كانت قريش ومن دان بدينها وهم الخمس يقفون بالمزدلفة ويقولون نحن أهل الله وقطان حرمه فلا نخلف الحرم ولانخرج منه ويتعاظمون أن يقفون مع سائر الناس بعرفات وكان سائر الناس يقفون بعرفات فإذا أفاض الناس من عرفات أفاض الخمس من المزدلفة فأمرهم الله أن يقفوا بعرفات مع سائر الناس ثم يفيضوا منها إلى جمع وأخبرهم أ

Silatur Rahmi Tidak Harus Bertemu

Hari-hari ini hatiku gundah. Di saat pekerjaan rumah menumpuk sesak, tiba tiba ada pesan masuk via bbm, "Mas, gak dolin omahku?". Pesan dari saudaraku yang rumahnya tidak terlalu jauh.
Yang diinginkannya adalah agar aku silaturrahmi ke rumahnya. Melepas kangen dan berbincang-bincang ringan tentang keluarga, tentang tetangga, dan sedikit bertemakan isu-isu ilmiyyah yang sedang bergejolak. Tapi, pesannya via bbm kujawab, " Sepurane aku ndek omah repot.".

Keesokannya, kami bertemu dalam suatu acara keluarga. Tampak wajahnya yang agak kecut kecewa , karena ketidak hadiranku di rumahnya saat diundang. Mungkin di benaknya, aku adalah keluarga kurang perhatian.Yang lebih mengerikan, ia berkata kepadaku, " Saiki wes lali karo dulur."
Peuuuuh.

Sebenarnya, kita harus memahami ma'na dari silaturrahmi. Harus memahami Ma'na menyambung tali silaturrahim. Agar dalam berhubungan dalam kekeluargaan tidak ada salah paham.

Apa sebenarnya hakikat silaturrahmi. Bagaimana cara bersilaturrahmi yang baik. Apakah harus bertemu. Dan bagaimana yang disebut memutus tali silaturrahmi.

Silaturrahmi adalah sebuah ikatan antar manusia untuk berinteraksi dengan baik. Ikatan itu bisa antar keluarga, antar pasangan, antar teman, bahkan antar mantan. Mantan suami, mantan isteri, mantan rekan kerja, dll.

Dengan bersilaturrahmi, seseorang akan menemukan banyak manfaat. Jodoh bisa ditemukan. Pekerjaan bisa didapat. Suasana hati dapat relax.

Mengikat silaturrami adalah tuntutan. Memotongnya adalah larangan.

Bagaimana cara mengikatnya? Apakah harus bertemu? Apakah harus hidup berdampingan? Apakah harus sering menelpon?

Bagaimana suatu perilaku dapat dikategorikan memutus tali silaturrahmi?

Jika kita fahami definisi silaturrahmi yaitu berinteraksi dengan baik, pastinya tidak ada aturan baku bagaimana sikap kita bersilaturrahmi.  Tidak ada peraturan tertulis harus bertemu. Tidak ada aturan  Harus berkunjung ke rumah, Apalagi waktu pekerjaan menumpuk. Dan tidak ada aturan baku harus menelfon atau saling kirim pesan singkat.

Bahkan, yang saya fahami, terlalu sering bertumu akan menimbulkan konflik, akan menimbulkan kebosanan, akan menimbulkan kecemburuan, dll.

Dalam redaksi kitab is'adur rofik dijelaskan, Batas-batas memutus tali silaturrohmi ada beberapa pendapat ulama yaitu:
1. Mengerjakan kejelekan kepada kerabat.
2. Meninggalkan kebaikan kepada kerabat.
3. Memutus kebiasaan-kebiasaan yang sudah dilakukan tanpa ada udzur syar’i.
Pengambilan ibarat:
Is’adur Rofiq, juz II, hal. 117
وفى اسعاد الرفيق، ج 2 ص 117، مانصه:(ومنها قطعية الرحم) واختلف فى المراد بها وقيل ينبغى ان تختص بالإساءة وقيل لا بل ينبغى ان تتعدى الى ترك الاحسان اذ الأحاديث آمرة بالصلة ناهية عن القطيعة ولا واسطة بينهما والصلة ايصال نوع من انواع الاحسان والقطعية ضدها فهو ترك الاحسان واستوجه فى الزواجر ان المراد بها قطع ما الفه القريب من سابق لغير عذر شرعى لان قطعه يؤدى الى ايحاش القلوب وتنفيرها. اهـ

Suatu hal dapat dikatakan menyambung tali silaturrahmi jika secara wajar interaksi itu tetap berjalan dengan baik. Dan suatu hal dianggap memutus silaturrahmi jika ada perilaku yang menghambat untuk berinteraksi dengan baik.

Sering bertamu tapi hanya diam membisu, Rumah dekat tapi perang dingin, sering berbincang bincang tapi tema pembicaraannya adalah keburukan orang lain. Itu semua adalah sia sia

Sabtu, 02 Juli 2016

Pendidikan Anak

Anak adalah sebuah cobaan dari hyang widhi. Dengannya seseorang mendapatkan tanggung jawab. Dengannya seseorang akan meeasa tersibukkan. Dengannya seseorang akan bangga.

Banyak orang tidak menyadari bahwa anak adalah titipan. Sebuah titipan dari yang maha kuasa. Dititipkan untuk dididik menjadi orang berguna. Mulai dari budi pekertinya, pendidikan, sosialnya, raganya, semua aspek dibebankan kepada orang tua. Dan yang menitipkan adalah Allah.

Kelakuan anak mencerminkan perilaku didikan orang tua. Jika anak itu manja, maka orang tuanya ofer protektif. Jika anak itu tempramental, maka orang tuanya bengis. Jika anak itu minderan, maka dipastikan kurangnya dorongan untuk percaya diri.

Melihat fenomena sekarang, banyak anak yang rusak moralnya, orang tua diwajibkan memutar otak dalam mendidik. Banyak usaha dilakukan. Sekolah kepribadian, home schooling, pesantrean, dan lain lain.

Sebenarnya, yang paling berpengaruh dalam karakter dan kecerdasan anak adalah berperilakunya arang tua di kehidupan sehari hari. Bagaimana orang tua bercakap cakap. Bagaimana orang tua bersosialisasi. Bagaimana orang tua makan. Walaupun tidak diajarkan kepada anak secara langsung. Lisaanul haal antoqu min lisanil maqool. Perkataan berupa perbuatan lebih mengena dari pada perkataan mulut.

Dalam agama islam, hal yang paling utama dalam mendidik adalah tauhid. Ya'ni Cara berpikir tentang keyakinan dalam bertuhan. Pendidikan mengenal tuhan dan para rosul. Hal inilah yang belum secara maksimal diterapkan oleh para orang tua.

Tapi, Bagaiman anaknya bisa paham kalau orang tuanya tidak paham.

Maka dari itu, anaka harus dididik dengan sikap yang menjadi suri tauladan yang baik , dan dididik tauhid yang benar. Dan tauhid yang benar hanya ada di pondok pesantren.